Keyakinan yang Berbuah Manis

Sekolah ini bukanlah sekolah seperti pada umumnya. Sekolah yang tidak hanya mengajarkan ilmu akademik, tetapi juga ilmu agama yang kuat dan hafalan Qur’an yang  cemerlang. Sekolah yang berada tidak jauh dari keramaian kota, di tengah hamparan sawah yang hijau. SMPIT Harapan Umat Ngawi, yang baru saja dibangun satu tahun yang  lalu  oleh YPSDI (Yayasan Pendidikan Sosial dan Dakwah Islam) dan digagas kuat oleh kepala sekolah menengah pertama tersebut, Drs. Ali Nurhidayat, M.Ag.

Penggagas kuat SMPIT Harapan Umat Ngawi, Drs. Ali  Nurhidayat, M.Ag. (biasanya dipanggil Ustadz Ali) yang lahir di Ngawi, 7 April 1969 ini merupakan lulusan IAIN Surabaya dan UMS. Ustadz yang juga lulusan MI Kedungwaru,  SMP  Al-Islam Pehnangka, dan SMA 2 Madiun ini mengambil Jurusan Pendidikan Agama Islam dan Manajemen  Pendidikan. Ustadz Ali bertempat tinggal di Kedungwaru, Katikan, Kec. Kedunggalar yang terbilang cukup jauh dari sekolah  gagasannya. Dengan istrinya, Khomsiatun, mereka memiliki 3 orang anak yang bernama  Alan  Saif  Alhaqqi (17), Aufiya-zahra Nurani (16), dan terakhir Arza Nur Azizah (12). Anak pertama akan memasuki sebuah universitas di Solo, yang kedua menuntut ilmu di SMA Darut Taqwa Ponorogo, serta yang terakhir berada di sekolah gagasan ayahnya sendiri, SMPIT Harapan Umat Ngawi.

Sebelumnya, YPSDI sudah membangun dua sekolah dengan  tingkatan  yang  berbeda, TKIT Harapan Ummat Ngawi serta SDIT Harapan Ummat Ngawi. Ustadz Ali yang juga anggota YPSDI merasa ingin memulai membangun SMP tiga tahun sebelum berdirinya SMPIT Harapan Umat Ngawi. Tahun 2015, beliau mulai berpikir membangun untuk  percobaan  terlebih dahulu. Mendahului keinginan yayasan, beliau sudah  berkata  siap  untuk  memulainya. Sayangnya, beliau dalam kondisi belum memiliki apa-apa untuk membangun sekolah.

Sekitar April 2015, YPSDI yang sudah sepakat akhirnya mulai  membangun.  Pertama, yang dilakukan oleh yayasan adalah merekrut tenaga pendidikan.  Dalam  waktu  6  hari,  masuk 62 pelamar yang bersedia. Sudah diputuskan, 12 dari 62 pelamar yang  diterima.  Sedangkan sumber dana, berusaha mencari donatur sana-sini. Dana  tersebut  mencukupi  untuk operasional pendaftaran siswa nanti.

Setelah itu, Ustadz Ali beserta para tenaga didik terekrut melakukan studi banding ke Baitul Qur’an Sragen. Di sana, mereka mengambil ilmu sebanyak-banyaknya terkait program dan sistem kepondokan. Allah pun  memberi  kemudahan  dengan  sambutan hangat dan  para pengurusnya dan semuanya diberikan dengan cuma-cuma selama kurang lebih satu minggu. Dengan berbekal keyakinan kepada Allah, setelah studi banding, dibuatlah pamflet (spanduk) untuk pendaftaran calon santriwan-santriwati. Awalnya masih ragu, apa yang dijual kepada masyarakat, namun karena yakin kepada Allah, terjawablah apa akhirnya.

Membuka pendaftaran siswa baru, masuklah 29 pendaftar. Jumlah sekian sudah cukup banyak dibanding sekolah sejenis di Kabupaten Ngawi. Karena dana masih belum mencukupi untuk pembangunan, dipinjamkanlah satu ruangan kelas di SDIT Harum Ngawi untuk pendaftaran. Dan juga karena sekolah ini  boarding,  maka  pinjam tiga ruangan di  SDIT Harum. Satu untuk kelas, satu untuk kantor dan asrama  putra,  satu ruang lagi untuk asrama putri.

Merawat 29 anak dengan fasilitas serba seadanya  bukanlah perkara mudah.  Apalagi sawah dekat sekolah sedang masa panen sehingga  banyak  hewan-hewan  kecil  yang  datang ke asrama. Biasanya, malam-malam Ustadz Ali datang ke sekolah  untuk menangani keluhan anak-anak. Ditambah lagi, sewaktu itu Ustadz Ali ‘merangkap’ dua jabatan. Satu sebagai  kepala sekolah MTsN Gerih dan SMPIT Harapan Umat Ngawi.  Ustadz Ali pun merasakan  betapa beratnya pikiran, tetapi melihat anak-anak bersemangat saja sudah menjadi spirit bagi beliau.

Ada saja kendala yang harus ditangani di awal masuk.  Kendala  pertama,  masalah pembiayaan. Namun, karena keikhlasan ustadz dan ustadzah,  hilang  sudah  kendala  pertama. Dan kendala yang lain, karena termasuk sekolah boarding dan belum  mempunyai  pengasuh  khusus di asrama, sering sekali Ustadz Ali merangkap banyak pekerjaan.

Terkadang, beliau selalu berpikir, apakah ini benar atau salah.  Tetapi, karena  bekerja keras, terus tawakkal kepada Allah, jadi semua bisa tertangani.  Tawakkal selalu, beliau yakin ini benar. Yakin ini semua karena pertolongan Allah.

Memasuki akhir tahun ajaran, beliau memutuskan untuk tidak berlama-lama  meminjam ruangan di SDIT Harum. Yakin pindah ke  tempat yang  baru  karena  pertolongan  Allah. Melalui seorang teman yang mengatakan di sana ada tempat kosong jika ingin dipakai.  Baru ada satu bangunan (yang sekarang berfungsi sebagai asrama putra). Tempatnya juga  dekat dengan sawah, ditambah juga banyak pepohonan jati.

Yang disayangkan, rentang waktu untuk membangun tersisa empat bulan sebelum memasuki tahun ajaran baru. Kembali, Ustadz Ali dilanda rasa pesimis. Bagaimana jika dalam kurun waktu empat bulan itu bangunan belum siap jadi. Dikonsultasikan kepada banyak orang, tapi jawaban satu orang dan orang lainnya sama, tentu tidak mungkin.

Dalam rasa pesimisnya, beliau  justru  dipertemukan  dengan Pak Ony Anwar,  Bapak Wakil Bupati Ngawi. Hingga akhirnya, Ustadz Ali dapat bernapas lega setelah Pak Ony mengizinkan dan siap membantu. Kurun waktu empat bulan tersebut, beliau masih dilanda rasa tidak yakin, apakah keputusan ini benar atau tidaknya.

Waktu empat bulan bukanlah waktu yang lama dalam masa dilemanya. Bahkan  Ustadz Ali rela bercapek-capek, sampai sakit juga. Tetapi, sekarang beliau yakin,  pertolongan Allah selalu ada. Setelahnya, Pak Ony mengikhlaskan dan semua biaya pembangunan ditanggung oleh beliau. Empat bulan sebelum pembangunan, sempat berencana di Kedunggalar, dekat hutan. Tetapi, diberikan oleh Pak Ony lahan yang ada di Desa Grudo. Dibangunlah sekolah menengah pertama itu di sana.

Sempat ditanya, mengapa memilih untuk membangun sekolah boarding. Tanpa ragu Ustadz Ali yakin jika sekolah boarding ini pilihan terbaik. Prihatin melihat perilaku anak sekolah zaman sekarang. Banyak orang tua mengeluh kalau kenakalan anak didominasi oleh anak usia sekolah. Maka dari itulah Ustadz Ali memutuskan untuk membangun sekolah dengan sistem boarding.

Bukan hanya orang biasa yang mengeluh, bahkan pemerintah juga galau dengan kondisi pendidikan sekarang. Sampai-sampai muncul wacana  peraturan  full  day  school  untuk anak sekolah. Pemerintah  juga  mengapresiasi  kuat pada  pesantren  yang mengajarkan ilmu akademik, namun juga akhlak dan mental. SMPIT Harapan Umat Ngawi adalah satu-satunya sekolah yang mendidik  anak  menjadi cerdas dan hafal Qur’an di Kabupaten Ngawi.

Yayasan memang mencakup keseluruhan. Namun, yang paling berpengaruh pada pendirian SMPIT Harapan Umat Ngawi adalah Ustadz Ali. Beliau berusaha memberikan pendidikan yang baik, sampai berkonsultasi pada  pelaku  pendidikan  untuk  membagikan   ilmunya. Pernah juga beliau mengumpulkan dua belas teman praktisi pendidikan dari  seluruh  Ngawi  untuk memberikan masukan ilmu.

Setelah melihat progress anak-anak, rasa lelah yang dirasakan beliau hilang seketika. Ustadz Ali juga semakin yakin jika Allah akan menghargai semua kerja kerasnya. Terinspirasi juga dari Gontor bahwa dulu masih berupa saung-saung, sekarang sudah tak tergoyahkan lagi. Yakin dan semakin yakin jika kelak SMPIT Harapan Umat Ngawi yang digagasnya secara kuat dapat menjadi seperti sekolah tingkat internasional tersebut. Aamiin.

Sebagai penutup, perjuangan guru memang perlu dihargai. Tentu saja, jika tanpa guru, siapa yang kelak mencerdaskan bangsa? Siapa yang akan menjadi tumpuan harapan untuk kecerdasan negara? Jika tanpa guru, apa jadinya kita? Perjuangan memang pahit, tapi siapa yang tahu jika akhir perjuangan itu berakhir manis. Akhir perjuangan, yang menjadi bermanfaat bagi setiap orang. Hanya satu kata yang dapat keluar atas perjuangan guru, apalagi jika bukanlah jazakumullahu khairan

Ditulis oleh: Aushafa Taufiqa
Juara 3 Lomba Menulis di Festival JSIT Tingkat Provinsi Jatim

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s